Pengalaman Perjalanan Spirirtual (Bag I)

Sebenarnya saya sedikit ragu untuk menuliskan ini di blog karena bisa menimbulkan banyak persepsi, namun di sisi lain bisa juga menginspirasi teman-teman yang mungkin memiliki pemikiran yang mirip dengan saya.

Postingan ini saya tulis dengan sangat hati-hati agar tidak ada pihak yang merasa tersinggung, namun jika ada yang merasa tidak berkenan, bukan maksud saya melakukannya, postingan ini saya tulis dengan tujuan berbagi dan mungkin bisa menginspirasi.

Ketertarikan saya dengan dunia spiritual berawal sejak masih di bangku sekolah dasar, banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu saya, petanyaan-pertanyaan tersebut terus ada sampai pada tahun 2009 saat umur saya di awal 20an tahun, di masa itu saya bertemu dengan sebuah film yang diambil dari buku karya “Rhonda byrne” berjudul “the Secret”.

Sejak saat itu hidup kehidupan saya berubah drastis dari sisi ekonomi, berkecukupan di usia muda, banyak penyimpulan-penyimpulan baru dan juga pemahaman baru, namun sebenarnya di dalam diri saya yang paling dalam ada setitik kebingungan yang tertutup oleh kesenangan-kesenangan duniawi. dan di sini saya menjadi atheis.

5 tahun berlalu kebingungan yang saya rasakan semakin membesar, bisnis cenderung stagnan, keluarga dan hubungan saya dengan orang lain juga banyak mengalami masalah. Banyak sekali pelatihan bisnis yang saya ikuti, pelatihan-pelatihan motivasi, seminar-seminar manajemen namun tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang sebenarnya bersumber dari dalam diri saya sendiri.

Pada akhirnya saya bertemu dengan seorang pelatih pemberdayaan diri dari Jogjakarta, “Arif Rh” melalui video yang diupload oleh murid-muridnya, dari situ saya mengenal tentang “vibrasi”, beliau menjelaskan “vibrasi” dengan begitu gamblang meskipun saya sendiri harus mengulang-ulang video rekaman supaya bisa memahaminya. Buku David R. Harkins yang berjudul “Power vs Force” merupakan dasar dari pelatihan beliau. Berikut sekilas tentang tabel vibrasi.

Akhirnya saya mulai mengetahui bahwa hidup adalah tentang vibrasi, apapun yang terjadi pada kita karena vibrasi yang kita pancarkan. Alasan pada tahun 2009 hidup saya berubah drastis adalah karena selain mempraktekkan hukum LoA (Law of Attraction) juga karena vibrasi yang tinggi (mungkin karena di usia awal 20 an tidak terlalu banyak bersinggungan dengan banyak pihak).

Lalu bagaimana cara berpindah dari vibrasi rendah ke vibrasi tinggi? Ada banyak sekali cara, salah satunya Mas Arif menjelaskan di tulisan ini http://ikhlaspasrah.com/just-accept-it-pintu-gerbang-ke-zona-power-bagian-1/ ada juga cara dengan metode hooponopono. Bagi beberapa teman saya bisa berpindah dengan menjalankan ritual agama mereka masing masing.

Namun di sini ada problem baru bagi saya. Hehe. Itu karena banyaknya pertanyaan saya tentang spiritual sehingga sulit bagi saya beralih vibrasi karena logika saya yang begitu kuat dan begitu banyak pertanyaa.

Akhirnya pada suatu ketika saya bertemu dengan sebuah teknik meditasi tertentu (saya tidak menjelaskan ini di publik, jika ada yang ingin mengetahuinya silahkan menghubungi saya secara pribadi).

Perjalanan spiritual saya yang pertama dimulai, saya menjalani semacam mati suri yang berlangsung kurang lebih 3 jam.

Jam ke 1

Di menit-menit awal jiwa saya ditarik dan bertemu dengan sesuatu yang mengerikan di neraka, di sana begitu banyak penderitaan, banyak makhluk yang tidak bahagia, menderita, menangis, ketakutan, kegelisahan termasuk jiwa saya, di situ muncul sosok seperti penguasa yang terus menyiksa semua makhluk yang ada di situ.

Di sela-sela proses penyiksaan tersebut ada banyak emosi yang keluar, kebencia, kemarahan, kesenangan, kebingungan, iri, dengki, jadi semacam detok jiwa. Saat itu saya sudah melupakan apa yang sebenarnya terjadi dengan saya di dunia ini.

Selain proses detik emosi-emosi yang keluar itu, ada juga proses regresi yang terjadi, saya dibawa ke kehidupan sebelum kehidupan ini, dalam perjalanan itu saya ditunjukkan kehidupan-kehidupan saya sebelumnya dan kenapa karma berbuah di kehidupan yang sekarang.

Jam ke 2

Di jam ke 2 saya mulai berteriak minta pertolongan kepada Tuhan (sosok yang selama ini tidak saya percayai). Siksaan-siksaan terus berlangsung namun saya tetap meminta pertolongan kepada Tuhan.

Proses keluarnya emosi-emosi dan regresi masih tetap berlangsung di jam ke 2 ini.

Jam ke 3

Sampai di jam ke 3 saya merasa ada pembimbing yang mendatangi sya dan membawa saya menemui sosok yang saya pahami dengan sebutan Tuhan. Sosok tersebut begitu damai, sejuk dan membawa saya ke perasaan penuh syukur. Dan yang membuat saya terkejut adalah sosok Tersebut adalah sama dengan sosok yang sebelumnya menyiksa saya.

Perjalanan saya berakhir setelah 3 jam berlalu dan saya kembali ke dunia nyata dengan perasaan penuh syukur, cinta tanpa batas, cinta tanpa syarat, menemukan tujuan hidup, damai dan ada perasaan yang tidak bisa saya tulis di sini (tak terlukiskan)

Bersambung ke Bagian II

Leave a Reply