Saat Ingin Menulis Tentang Kehidupan

Entah apa yang terjadi saya merasa ingin menulis.

Membayangkan berada di tepi laut duduk di karang yang basah akibat deburan ombak. Merenungkan tentang panggilan hidup.

Saya tidak mengerti apa yang Tuhan inginkan dalam hidup saya dan itulah mengapa saya menyerahkan semuanya kepadaNya termasuk bagaimana saya berpikir dan menganalisa.

Tiba-tiba saya teringat di hari itu saat saya pertama kalinya ke Jakarta semenjak menerima juru selamat. Suatu momen yang membingungkan dimana kondisi kalut bercampur aduk di dalam kepala saya yang akhirnya entah bagaimana ceritanya diselesaikan oleh Tuhan. Inilah foto saat itu saat di kereta.

Biasanya saya menulis dengan motivasi supaya orang lain menemukan tulisan saya, bertahun-tahun saya menggeluti dunia SEO dan membidik beberapa kata kunci penting untuk menjual sesuatu. Tidak ada yang salah dengan hal itu namun saya tersadarkan bahwa bekerja bukan untuk mendapatkan sesuatu saja. Memang semenjak manusia jatuh dalam dosa, pekerjaan menjadi susah bahkan untuk hidup sekalipun tetapi esensi pekerjaan lebih dari sekedar mendapatkan melainkan berkarya, mengeluarkan, melakukan, meluber karena kepenuhan Tuhan atas hidup kita.

Tulisan ini saya buat dengan tidak ada rancangan tertentu, tulisan yang hanya mengikuti arus pikiran, saya hanya menuliskan apapun yang terlintas di benak saya.

Terimakasih ya Bapa yang telah memanggil saya kembali ke jalanMu, jalan yang sempit, jalan yang benar. Terimakasih juga Tuhan telah menyadarkanku bahwa saya adalah manusia berdosa yang hina dan tidak layak namun Engkau mengasihku. Dua rasa yang menjadi satu membentuk kelimpahan sejati seperti yang Tuhan inginkan.

Mungkin perjalananku di dunia ini masih panjang dan mungkin juga sebentar saja, namun yang pasti kini saya sadar bahwa tidak akan mampu melunasi hutang kepada Tuhan sampai kapanpun.

Terpujilah Allah hikmatNya besar, begitu kasihNya tuk dunia cemar, sehingga diberikan putraNya kudus, mengangkat manusia serta menebus.

Leave a Reply